Minggu, 24 Mei 2009

kebangkitan teknologi indonesia oleh prof. Dr.-ing. Baharuddin jusuf habibie


Sejak tahun 1995, tanggal 10 Agustus selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Awalnya adalah keberhasilan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT IPTN, sekarang PT Dirgantara Indonesia) menerbangkan pesawat N-250, yang diklaim sebagai hasil karya asli anak-anak bangsa. Saat itu memang Prof. Dr.-Ing. Baharuddin Jusuf Habibie sedang di puncak prestasinya sebagai Menteri Riset & Teknologi Republik Indonesia. Dan beliau adalah ahli aeronautika dan pernah menjadi wakil presiden sebuah perusahaan pembuat pesawat terbang di Jerman yaitu Messerschmidt Bolkow Blohm (MBB). Habibie mencoba mendorong kebangkitan teknologi nasional dari aeronautika, bukan sekedar karena dia pakarnya, namun karena (1) dia yakin jika aeronautika yang teknologi canggih bisa dikuasai, mestinya yang lain seperti teknologi mekanisasi pertanian atau otomotif akan lebih mudah lagi; (2) dia percaya kemajuan aeronautika akan menjadi lokomotif yang menarik maju sejumlah teknologi penunjangnya seperti teknologi mesin, kimia, material, elektronika, hingga teknologi informasi. Oleh karena itu, di era 1980-an, Habibie tanpa ragu-ragu setiap tahun mengirim ratusan lulusan SMA terbaik dari seluruh Indonesia untuk belajar teknologi ke berbagai negara maju (AS, Canada, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Belanda, Austria, Australia). Untuk itu dia juga berani utang ke Bank Dunia agar seluruh program ini berjalan. Setiap pelajar yang dikirim ini mendapat beasiswa minimal sejumlah 50.000 US-Dollar hingga menamatkan insinyurnya. Jumlah ini baru untuk biaya hidup (living cost), belum biaya kuliah (tuition fee). Namun dengan pola ikatan dinas, Habibie yakin investasi negara ini tidak akan sia-sia.

Namun sejarah kemudian membuktikan bahwa seluruh rencana itu nyaris kandas. Sejak awal para ekonom mengkritik teori Habibie (”Habibienomics”) sebagai utopia. Kata mereka, yang dibutuhkan bangsa ini adalah teknologi tepat guna, yang dapat dipakai oleh petani di pedesaan, industri kecil dan menengah, serta sektor rumah tangga, yang jumlahnya sangat besar – dan selama ini tergantung impor. Krisis ekonomi yang membuat Indonesia menjadi pasien IMF memaksa semua proyek-proyek teknologi ini ditinjau ulang. IPTN yang kemudian jadi PTDI dibiarkan bangkrut. Ribuan karyawannnya dirumahkan, dan ratusan tenaga profesional yang dulu disekolahkan ke Luar Negeri dengan hutang Bank Dunia ramai-ramai hengkang ke Luar Negeri. Sekarang saja masih ribuan ex karyawan PTDI yang menuntut pesangonnya. Lobby-lobby internasional membuat pesawat N250 tidak diberi sertifikat terbang oleh otoritas dunia, sehingga pemasarannya seret. Habibie sendiri kemudian semakin terseret dalam politik, menjadi Presiden RI yang melepas Timor Timur dan membuka keran liberalisasi, dan kemudian terpaksa turun dari kancah politik karena pidato pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR.

Sekarang gaung Hakteknas sudah jarang terdengar, meski tetap diperingati. Tahun ini, Kementrian Ristek menggelar antara lain Pameran Ristek, Ristek-Medco Award (untuk orang-orang yang dianggap berjasa mengembangkan energi alternatif), Ristek-Telkom Award (untuk mereka yang dianggap berjasa mengembangkan software Open Source) dan Ristek-Martha Tilaar Award (untuk yang diangap berjasa mengembangkan obat / herbal tradisional).

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa kebangkitan teknologi hampir mustahil diciptakan atau dikendalikan oleh para teknolog itu sendiri. Ada interaksi yang kuat dengan dunia ekonomi, politik, legislasi, dan juga kultur masyarakat. Semua aspek ini harus turut berbenah agar terjadi kebangkitan. Pada saat yang sama, kebangkitan itu nanti tak sekedar kebangkitan teknologi, tetapi juga kebangkitan ekonomi, politik dan sosial-budaya masyarakat.

Kekeliruan yang mungkin terjadi di masa lalu adalah terlalu mendewakan teknologi. Teknologi dianggap obat mujarab atas segala penyakit. Padahal dalam implementasinya, tanpa kepercayaan dunia keuangan, tanpa selembar surat dari otoritas pemberi ijin, tanpa komitmen kuat para politisi, dan tanpa akseptansi dari masyarakat luas, teknologi hanya akan berada di puncak menara gading. Tidak membumi. Tidak digunakan. Dan akhirnya hilang tertelan sejarah.

Di sini kita melihat bahwa ada yang lebih mendasar dari kebangkitan teknologi, yaitu kebangkitan cara berpikir seluruh elemen masyarakat, baik di level bawah (grassroot) mapun elit: pengusaha, penguasa, politisi, ilmuwan hingga pemuka agama. Kita memerlukan orang-orang yang benar-benar memiliki visi kebangkitan. Dan Islam menyediakan visi itu, ketika Allah berfirman dalam QS Ali-Imran:110

Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Jadi setiap muslim harus punya visi menjadi yang terbaik, karena dengan itu misinya di dunia untuk menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah dapat berjalan optimal.

Pada masa lalu, visi ini begitu mendarahdaging di dalam umat Islam. Umat Islam di Madinah di masa nabi belum memiliki teknologi secanggih yang dimiliki orang-orang Romawi, Persia, India atau Cina. Tetapi karena mereka begitu menghayati pesan Allah agar menjadi yang terbaik, mereka siap untuk berjalan ribuan mil ke Cina, demi mendapatkan teknologi kertas, kompas dan mesiu. Mereka ke India menyerap ilmu aritmetika dan angka India, yang kemudian diadopsi sehingga menjadi lebih terkenal sebagai angka Arab. Mereka belajar serius beberapa bahasa asing agar dapat secepat mungkin mentransfer teknologi dari Barat dan Timur, untuk dikembangkan lebih lanjut. Dan dengan teknologi itu mereka dalam waktu kurang dari seabad sudah lebih unggul dari Persia dan Romawi, sehingga dakwah mereka menjadi berwibawa dan jihad mereka hampir selalu meraih kemenangan.

Ini menunjukkan cara berpikir yang bangkit dengan didasari keimanan. Maka seluruh politik pada masa itu akan sinergi. Tidak seperti sekarang, teknologi dicoba dibangkitkan hanya dengan motivasi ekonomi atau kebanggaan nasional. Padahal para pemain ekonomi sering hanya berburu rente atau keuntungan jangka pendek. Para politisi berpikir hanya sampai pemilu mendatang, dan bagaimana investasi politiknya cepat kembali. Sedang massa konsumen dibuai dengan mimpi dari media tentang kehebatan produk asing. Tidak mungkin kebangkitan apapun bisa terjadi dengan cara ini. Teknologi juga terbukti bukan lokomotif kebangkitan, namun hanya salah satu efek dari sesuatu yang lebih mendasar tadi, yaitu kebangkitan berpikir.

Adalah tugas para pemimpin umat di segala lini, baik ulama maupun ilmuwan, birokrat maupun teknolog, yang sedang berkuasa maupun yang di luar kekuasaan, agar bersama-sama mewujudkan kebangkitan berpikir berlandaskan keimanan, agar yang didapat adalah kebangkitan yang benar dan sempurna.






kebangkitan industri nasional




Industri kreatif menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia, karena punya potensi besar dalam memberi kontribusi bagi perekonomian negara.

Bukan hanya menyumbang bidang ekspor, industri kreatif juga mampu menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan nilai produk domestik bruto. Satu lagi, industri ini dinilai lebih ramah lingkungan karena sangat mengandalkan aspek human capital, sumber daya alam yang terbarukan.

TI dan Industri Kreatif


Modal utama ekonomi kreatif adalah sumber daya manusia, ide, kreativitas, dan inovasi. Pemerintah membagi ekonomi kreatif dalam 14 sektor industri: arsitektur, desain, kerajinan, layanan komputer dan peranti lunak, fesyen, musik, pasar seni dan barang antik, penerbitan dan percetakan, periklanan, permainan interaktif, riset dan pengembangan, seni pertunjukan, televisi dan radio, serta video, film, dan fotografi. Lalu, apa hubungan antara keempat belas sektor industri kreatif dengan TI?

“Pasar (ekonomi kreatif) hanya akan terbentuk jika kita punya IT literacy tinggi dan sebesar-besarnya masyakarat mengakses IT,” demikian kata oleh Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, saat menyampaikan materi “Marketing Indonesia's Digital Creative Industry” dalam ajang Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA) 2008, Jumat (8/8).

Digelar pada 7-8 Agustus 2008, di Jakarta Convention Center, sekaligus untuk merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional, INAICTA 2008 memberi pencerahan bagi para pelaku industri kreatif, khususnya di bidang teknologi. Dalam perhelatan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology, ICT) skala nasional itu, puluhan hasil kreasi dan inovasi anak bangsa dipajang dan masuk dalam daftar nominasi peraih penghargaan.

Menurut Mendag, ada tiga aspek penting ICT dalam menciptakan industri kreatif, yakni ICT sebagai industri, ICT sebagai alat untuk menciptakan industri, dan ICT sebagai alat untuk mengerti tentang pasar dan konsumen.

Kita lihat poin pertama, ICT sebagai industri. Bisa dilihat, dari keempat belas sektor industri kreatif yang dicanangkan oleh pemerintah, hampir semua terkait langsung dengan ICT. Pemahaman tentang ICT diperlukan untuk mengembangkan industri kreatif.

Beralih ke poin kedua, ICT sebagai alat untuk menciptakan industri, kita bisa melihat pentingnya ICT sebagai media belajar dan promosi produk oleh para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). ICT sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Mendag mengambil contoh yang terjadi dalam industri musik. “Masalah (dalam industri musik) yang terjadi saat ini adalah piracy. Nantinya, CD akan beralih ke toko musik online. Orang bisa membeli musik dengan men-download dari internet atau membeli ringtone untuk ponsel,” katanya. Bisa dilihat, pemasaran musik secara digital lewat website dan internet akan menjadi masa depan industri musik.

Terakhir, Mendag menjelaskan tentang peran ICT sebagai alat untuk mengerti pasar dan konsumen. “Iklan tradisional (di TV atau majalah) tak lagi menjadi sumber utama penilaian masyarakat terhadap sebuah produk,” katanya. Masih banyak media yang bisa mempengaruhi penilaian masyarakat tentang suatu produk. Contohnya blog.

Pengguna blog saat ini banyak jumlahnya. Mereka bisa bebas membagi pendapatnya tentang suatu hal atau produk di blognya. Dan siapa saja bisa berkunjung dan membaca blog tersebut. Selain blog, penilaian terhadap produk bisa terbentuk dari komunitas atau kelompok yang berkembang secara demografis.

Peran Triple Helix

Mendag menyampaikan, 30% penduduk Indonesia berusia 0-14 tahun, 50% berusia 0-29 tahun, dan 75% berusia di bawah 40 tahun. Menurutnya, mereka itu adalah pasar TI dan sumber daya manusia kreatif. Namun, bukan hanya otak kreatif dan sumber daya manusia yang besar yang diperlukan untuk membentuk negara yang berbasis ekonomi kreatif. Peran serta dan kerja sama antara pemerintah, pengusaha, dan kaum cendekiawan pun diperlukan. Istilah yang digunakan untuk menyebut tiga elemen itu adalah “triple helix”.

Triple helix ini harus bekerja sama untuk membangun lima pilar ekonomi kreatif,” kata Mendag. Kelima pilar tersebut adalah yang terlibat dalam produksi industri kreatif, teknologi sebagai pendukung mewujudkan kreativitas individu, sumber daya seperti sumber daya alam dan lahan, kelembagaan mulai dari norma dan nilai di masyarakat, asosiasi industri dan komunitas pendukung hingga perlindungan atas kekayaan intelektual, dan lembaga intermediasi keuangan.

Mendag mengakui, masih ada banyak kendala yang dihadapi dalam pengembangan industri kreatif di Tanah Air. Di antaranya kendala dalam hal HaKI (hak atas kekayaan intelektual), pemodalan, dan belum adanya pengakuan internasional bahwa Indonesia merupakan negara berpotensi TI besar. Sebagai contoh, untuk bisa memperoleh klien di luar negeri, sebuah perusahaan TI lokal harus memiliki kantor di luar negeri, minimal di Singapura.

“Tugas pemerintah saat ini adalah menyiapakan infrastruktur TI, mengurus masalah HaKI, dan mempromosikan Indonesia sebagai negara yang berpotensi SDM dan kemitraaan,” kata Mendag.